Sabtu, 08 Desember 2012

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA PADA PEMBELAJARAN BILANGAN BULAT


PROPOSAL
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA PADA PEMBELAJARAN BILANGAN BULAT MELALUI METODE TIGA PENCITRAAN DI SMP PGRI PANGKALAN KARAWANG
A.      Latar Belakang Masalah
Pendidikan dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan serta mengembangkan potensi yang dimiliki anak didik sebagaimana yang diungkapkan oleh A.B Hasibuan (1994: 1) bahwa “Pendidikan sebagai upaya atau kegiatan yang meningkatkan kemampuan seseorang dalam segala bidang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap”. Dengan demikian pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang sangat penting peranannya dalam upaya membina dan membentuk manusia berkualitas tinggi.
Pendidikan matematika merupakan bagian dari pendidikan. Jadi pendidikan matematika merupakan salah satu aspek kehidupan yang sangat penting peranannya dalam upaya membina dan membentuk manusia berkualitas tinggi. Sebagaimana yang diungkapkan Hudojo (1988: 20) bahwa “Dalam perkembangan modern, matematika memegang peranan penting karena dengan bantuan matematika semua ilmu pengetahuan sempurna”.
Pembelajaran matematika di sekolah merupakan sarana berpikir yang jelas, kritis, kreatif, sistematis, dan logis. Arena untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman dan pengembangan kreatifitas. Hal ini menyebabkan matematika dipelajari disekolah oleh semua siswa dari SD hingga SMA/ SMK/ STM dan bahkan juga di perguruan Tinggi.
Namun kenyataan yang terjadi di sekolah menunjukkan bahwa banyak siswa yang tidak menyukai matematika karena dianggap sebagai bidang studi yang paling sulit, sehingga mengakibatkan rendahnya nilai matematika disekolah. Hal ini juga tercermin dari hasil studi yang dilaksanakan oleh Organisasi International Educational Achievement (IEA) (WWW.depdiknas.go.id.2006) yang menunjukkan bahwa: Studi kemampuan siswa SMP di Indonesia hanya berada pada urutan ke- 39 dari 42 negara peserta.
Saat ini keadaan yang terjadi di sekolah SMP PGRI Pangkalan adalah siswa kurang menguasai perhitungan dan penalaran matematis. Karena siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang ditandai dengan banyaknya kesalahan–kesalahan yang dilakukan siswa dalam menjawab atau mengerjakan soal-soal. Di sekolah guru tidak melibatkan siswa secara aktif untuk menemukan sendiri  konsep dan prinsip –prinsip dalam menyelesaikan soal dengan metode tiga pencitraan  dominasi guru terhadap siswa membuat siswa tidak terlatih memecahkan soal dengan metode tiga pencitraan.
Dengan demikian sasaran pembelajaran tidak tercapai dan hal inilah yang menyebabkan hasil ujian kurang memuaskan. Hal ini diakibatkan oleh beberapa hal (Tjipto Utomo dan Kees Ruijhter, 1994:86) yaitu:
1.        Siswa kurang menganalisa soal yang dihadapinya
-          Mereka tidak mengetahui apa yang diketahui
-          Mereka tidak membaca soal secara seksama
-          Mereka terlalu cepat memulai perhitungan
-          Mereka tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
2.        Siswa tidak merencanakan jalan penyelesaia
-          Mereka tidak mulai dengan yang ditanyakan
-          Mereka tidak mengetahui persamaan-persamaan yang terpenting
-          Mereka tidak menghubungkan teori umum dengan soal yang khusus yang dihadapinya
3.        Siswa tidak menyelesaikan soal–soal secara terperinci
-        Mereka mengabaikan satuan–satuan yang dihadapinya
-        Perhitungan mereka dimulai terlalu dini.
4.        Siswa tidak menilai lagi kebenaran perhitungannya
-          Mereka tidak memeriksa lagi apakah jawaban yang diperoleh itu betul, realistis sesuai dengan yang ditanya
Padahal melalui kegiatan pemecahan soal dengan metode tiga pencitraan , aspek–aspek kemampuan siswa dalam matematika seperti penyelesaian soal, penemuan pola penggeneralisasian, komunikasi matematika dan lain-lain, dapat dikembangkan secara lebih baik di sekolah. Metode tiga pencitraan sendiri juga membantu guru dan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Karena metode ini merupakan metode dengan penyampaian materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik dan siswa dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan oleh guru.
Dalam hal ini untuk memecahkan masalah yang dihadapi siswa SMP PGRI pangkalan adalah peranan Penyelesaian soal bilangan bulat dengan metode tiga pencitraan. Dengan Metode Tiga Pencitraan, siswa di sekolah SMP PGRI Pangkalan diharapkan mampu dan terampil dalam penyelesaian soal dengan cepat dan tepat. Dalam hal ini siswa terpancing berpikir, menganalisa, bertanya dan mengevaluasinya kembali, sehingga dengan demikian siswa tersebut aktif berpartisipasi di dalam pembelajaran. Bilangan bulat merupakan salah satu pokok bahasan matematika yang dipelajari siswa dikelas VII SMP PGRI Pangkalan. Menurut keterangan guru di sekolah tersebut hasil belajar siswa pada penyelesaian soal dengan metode tiga pencitraan  sangat rendah. Hal ini disebabkan karena siswa tidak mengikuti langkah–langkah yang berurutan dan sesuai. Dari uraian di atas timbul ketertarikan untuk melakukan penelitian tentang. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA PADA PEMBELAJARAN BILANGAN BULAT MELALUI METODE TIGA PENCITRAAN DI SMP PGRI PANGKALAN KARAWANG.

B.       Batasan Masalah
Melihat  luasnya  ruang  lingkup  masalah yang teridentifikasi di bandingkan waktu dan kemampuan peneliti, maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian itu terbatas pada penentuan tingkat hasil belajar dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal secara sistematis. Tingkat hasil belajar siswa yaitu seberapa besar persentase secara klasikal penguasaan siswa terhadap materi ditinjau dari hasil belajar dengan menggunakan metode tiga pencitraan dan ketercapaian tujuan pembelajaran.
Sedangkan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika  ditinjau dari 4 kemampuan, yaitu:
1.        Kemampuan siswa memahami masalah.
2.        Kemampuan siswa merencanakan pemecahan masalah.
3.        Kemampuan siswa menyelesaikan/ melaksanakan pemecahan masalah.
4.        Kemampuan siswa mengevaluasi kembali hasil pemecahan masalah
B.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan Penelitian ini adalah:
1.        Apakah pembelajaran dengan metode tiga pencitraan efektif diterapkan dalam Pembelajaran bilangan bulat di Kelas VII SMP PGRI Pangkalan Tahun Ajaran 2012 - 2013?
2.        Bagaimana kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal dengan metode tiga pencitraan pada pokok bahasan bilangan bulat di kelas VII SMP PGRI Pangkalan Tahun Ajaran 2012-2013?
C.      Definisi Operasional
Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie, kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia kata prestasi diartikan sebagai usaha yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya).
Slameto mengatakan bahwa, “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Pengertian prestasi belajar sendiri menurut Syaiful Bahri Djamarah adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar dan diwujudkan dalam bentuk nilai atau angka.
Dengan demikian penulis dapat menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah penguasaan dan perubahan tingkah laku dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas belaj dan penilaiannya diwujudkan dalam bentuk nilai atau angka. 
James dan James (1976) mengatakan bahwa matematika adalah  ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan  satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga bidang, yaitu: aljabar, analisis dan geometri. Namun pembagian yang jelas amatlah sukar untuk dibuat, sebab cabang-cabang itu semakin bercampur. Adanya pendapat yang mengatakan bahwa matematika  itu timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran yang terbagi menjadi 4 wawasan yang luas yaitu aritmatika, aljabar, geometrid an analisis.
Johnson dan Rising (1972) berpendapat bahwa matematika adalah  pola berfikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logic, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan symbol dan padat, lebih berupa bahasa symbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.
Kemudian Kline (1973) mengemukakan bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dam menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.Masih banyak lagi defenisi-defenisi tentang matematika tetapi tidak satupun perumusan yang dapat diterima umum atau sekurang-kurangnya dapat diterima dari berbagai sudut pandang.
Karim, dkk (1997:83) mengatakan bahwa hanya dengan memiliki pengetahuan tentang bilangan cacah saja kita belum mampu menjawab masalah baik dalam matematika maupun masalah komputasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, himpunan bilangan cacah memiliki kekurangan. Sebagai contoh, tak ada bilangan cacah yang membuat kalimat “ 7 + y = 5 “ atau “ 8 + x = 0” menjadi pernyataan yang bernilai benar. Contoh lain, “ 4 – 9 = x “ tidak mempunyai jawaban bilangan cacah, maka para ahli menciptakan bilangan bulat. Bilngan bulat diciptakan dengan cara : tiap bilangan cacah , misalnya 4, kita ciptakan dua simbol baru + 4 dan -4. Simbol bilangan yang diawali tanda plus kecil agak ke atas mewakili bilangan positif. Biasanya tanda plus ini dihilangkan untuk menyatakan positif, sehingga + 4 juga berarti 4. Selanjutnya simbol yang diawali dengan tanda minus kecil agak ke atas mewakili bilangan negatif. Misalnya – 3 mewakili bilangan “ negatif 3 “.Untuk bilangan 0 bukan bilangan positif dan bukan negatif maka tidak perlu membubuhi tanda apapun.
Metode Pembelajaraan dengan tiga Pencitraan terdiri dan kata metode pembelajaran dan tiga pencitraan. Metode adalah kaidah-kaidah dasar dalam melakukan kegiatan. Pembelajaran adalah suatu kegiatan dalam menyampaikan bahan ajar. Citra adalah gambaran atau representasi dan obyek-obyek eksternal. Tiga Citra adalah representasi dan objek-objek eksternal yang diwujudkan ke dalam tiga bentuk (konsepsi) yaitu konsepsi sama (Auditonial atau pendengaran), absoro (Visual atau penglihatan) dan fuada (Kinestetik atau gerakan). Tiga Konsepsi yang kemudian disebut dengan Tiga Pencitraan yang meliputi citra Auditoda, Citra Visual, dan Citra Kinestetik.
Metode Pembelajaran dengan Tiga Pencitraan adalah suatu kaidah - kaidah dasar dalam pembelajaran dengan memperhatikan: Tiga potensi kodrati siswa dan tiga konsupsi bahan ajar.

D.           Tujuan dan Manfaat Penelitian
D.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan pokok di atas yaitu:
1.        Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran matematika dengan metode Tiga Pencitraan pada pokok bahasan bilangan bulat di kelas VII SMP PGRI Pangkalan Tahun ajaran 2012-2013
2.        Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal pada pokok bahasan bilangan bulat di kelasVII SMP PGRI Pangkalan.


D.2 Manfaat Penelitian
1.        Sebagai bahan sumbangan pemikiran dalam rangka memperbaiki proses Pembelajaran matematika di SMP, khususnya mengenai penyelesaian soal pada pokok bahasan bilangan bulat.
2.        Sebagai bahan perbandingan bagi guru/ calon guru untuk meninjau Kemampuan siswa SMP dalam memecahkan masalah dengan penerapan metode tiga pencitraan
3.        Sebagai pertimbangan bagi guru untuk menerapkan metode tiga pencitraan pada pokok bahasan bilangan bulat.
4.        Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang ingin meneliti penelitian sejenis.

E.            Kajian Pustaka
Darmadi (2009: 100) menyatakan bahwa “prestasi belajar adalah sebuah kecakapan atau keberhasilan yang diperoleh seseorang setelah melakukan sebuah kegiatan dan proses belajar sehingga dalam diri seseorang tersebut mengalami perubahan tingkah laku sesuai dengan kompetensi belajarnya”. Sedangkan menurut Nurkencana (dalam Ade Sanjaya, 2011), “prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar”.
Lanawati (dalam Reni Akbar Hawadi, 2004: 168) berpendapat bahwa “prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidik terhadap proses belajar dan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan instruksional yang menyangkut isi pelajaran dan perilaku yang diharapkan oleh siswa”.
Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah sesuatu yang merupakan hasil dari proses belajar yang mengakibatkan perubahan tingkah laku sesuai dengan kompetensi belajarnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, menurut Djaali (dalam Muhammad Baitul Alim, 2009) prestasi belajar seorang siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1.        Faktor dari Dalam Diri
1)        Kesehatan, Apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala, pilek, deman dan lain-lain, maka hal ini dapat membuat anak tidak bergairah untuk mau belajar. Secara psikologi, gangguan pikiran dan perasaan kecewa karena konflik juga dapat mempengaruhi proses belajar.
2)        Intelegensi, Faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan belajar anak. Menurut Gardner dalam teori Multiple Intellegence, intelegensi memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestetik fisik, sosial interpersonal dan intrapersonal.
3)        Minat dan motivas, Minat yang besar terhadap sesuatu terutama dalam belajar akan mengakibatkan proses belajar lebih mudah dilakukan. Motivasi merupakan dorongan agar anak mau melakukan sesuatu. Motivasi bisa berasal dari dalam diri anak ataupun dari luar lingkungan.
4)        Cara belajar, Perlu untuk diperhatikan bagaimana teknik belajar, bagaimana bentuk catatan buku, pengaturan waktu belajar, tempat serta fasilitas belajar.
5)        Faktor Dari Lingkungan
a.         Keluarga, Situasi keluarga sangat berpengaruh pada keberhasilan anak. Pendidikan orangtua, status ekonomi, rumah, hubungan dengan orangtua dan saudara, bimbingan orangtua, dukungan orangtua, sangat mempengaruhi prestasi belajar anak.
b.        Sekolah, Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat kelas, relasi teman sekolah, rasio jumlah murid per kelas, juga.
c.         Masyarakat, mempengaruhi anak dalam proses belajar, Apabila masyarakat sekitar adalah masyarakat yang berpendidikan dan moral yang baik, terutama anak-anak mereka. Hal ini dapat sebagai pemicu anak untuk lebih giat belajar.
d.        Lingkungan sekitar, Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas dan iklim juga dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, jelas bahwa tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran di sekolah saja. Ada faktor dari dalam diri siswa ataupun dari lingkungan siswa. Maka dari itu untuk dapat meningkatkan prestasi siswa, diharapkan ada keinginan dari dalam diri siswa dan juga dukungan ataupun motivasi dari keluarga dan lingkungan disekitarnya.
Untuk dapat memahami bagaimana hakikatnya matematika itu, kita dapat memperhatikan pengertian istilah matematika dan beberapa deskripsi yang diuraikan para ahli berikut: Di antaranya, Romberg mengarahkan hasil penelaahannya tentang matematika kepada tiga sasaran utama. Pertama, para sosiolog, psikolog, pelaksana administrasi sekolah dan penyusun kurikulum memandang bahwa matematika merupakan ilmu statis dengan disipilin yang ketat. Kedua, selama kurun waktu dua dekade terakhir ini, matematika dipandang sebagai suatu usaha atau kajian ulang terhadap matematika itu sendiri. Kajian tersebut berkaitan dengan apa matematika itu? bagaimana cara kerja para matematikawan? dan bagaimana mempopulerkan matematika? Selain itu, matematika juga dipandang sebagai suatu bahasa, struktur logika, batang tubuh dari bilangan dan ruang, rangkaian metode untuk menarik kesimpulan, esensi ilmu terhadap dunia fisik, dan sebagai aktivitas intelektual. (Jackson, 1992:750).
Bourne juga memahami matematika sebagai konstruktivisme sosial dengan penekanannya pada knowing how, yaitu pebelajar dipandang sebagai makhluk yang aktif dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan dengan cara berinteraksi dengan lingkungannya. Hal ini berbeda dengan pengertian knowing that yang dianut oleh kaum absoluitis, di mana pebelajar dipandang sebagai mahluk yang pasif dan seenaknya dapat diisi informasi dari tindakan hingga tujuan. (Romberg, T.A. 1992: 752).
Kitcher lebih memfokuskan perhatiannya kepada komponen dalam kegiatan matematika. (Jackson, 1992:753). Dia mengklaim bahwa matematika terdiri atas komponen-komponen: 1) bahasa (language) yang dijalankan oleh para matematikawan, 2) pernyataan (statements) yang digunakan oleh para matematikawan, 3) pertanyaan (questions) penting yang hingga saat ini belum terpecahkan, 4) alasan (reasonings) yang digunakan untuk menjelaskan pernyataan, dan 5) ide matematika itu sendiri. Bahkan secara lebih luas matematika dipandang sebagai the science of pattern.
Sejalan dengan kedua pandangan di atas, Sujono (1988:5) mengemukakan beberapa pengertian matematika. Di antaranya, matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungan dengan bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika sebagai ilmu bantu dalam menginterpretasikan berbagai ide dan kesimpulan.
Selanjutnya, pendapat para ahli mengenai matematika yang lain, di antaranya telah muncul sejak kurang lebih 400 tahun sebelum masehi, dengan tokoh-tokoh utamanya Plato (427–347 SM) dan seorang muridnya Aristoteles (348–322 SM). Mereka mempunyai pendapat yang berlainan. Plato berpendapat, bahwa matematika adalah identik dengan filsafat untuk ahli pikir, walaupun mereka mengatakan bahwa matematika harus dipelajari untuk keperluan lain. Objek matematika ada di dunia nyata, tetapi terpisah dari akal. Ia mengadakan perbedaan antara aritmetika (teori bilangan) dan logistik (teknik berhitung) yang diperlukan orang. Belajar aritmetika berpengaruh positif karena memaksa yang belajar untuk belajar bilangan-bilangan abstrak. Dengan demikian matematika ditingkatkan menjadi mental aktivitas mental abstrak pada objek-objek yang ada secara lahiriah, tetapi yang ada hanya mempunyai representasi yang bermakna. Plato dapat disebut sebagai seorang rasionalis. Aristoteles mempunyai pendapat yang lain. Ia memandang matematika sebagai salah satu dari tiga dasar yang membagi ilmu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan fisik, matematika, dan teologi. Matematika didasarkan atas kenyataan yang dialami, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari eksperimen, observasi, dan abstraksi. Aristoteles dikenal sebagai seorang eksperimentalis. (Moeharti Hadiwidjojo dalam F. Susilo, S.J. & St. Susento, 1996:20).
Sedangkan matematika dalam sudut pandang Andi Hakim Nasution (1982:12) yang diuraikan dalam bukunya, bahwa istilah matematika berasal dari kata Yunani, mathein atau manthenein yang berarti mempelajari. Kata ini memiliki hubungan yang erat dengan kata Sanskerta, medha atau widya yang memiliki arti kepandaian, ketahuan, atau intelegensia. Dalam bahasa Belanda, matematika disebut dengan kata wiskunde yang berarti ilmu tentang belajar (hal ini sesuai dengan arti kata mathein pada matematika).
Sedangkan orang Arab, menyebut matematika dengan ‘ilmu al-hisab yang berarti ilmu berhitung. Di Indonesia, matematika disebut dengan ilmu pasti dan ilmu hitung. Sebagian orang Indonesia memberikan plesetan menyebut matematika dengan “matimatian”, karena sulitnya mempelajari matematika. (Abdusysyakir, 2007:5). Pada umumnya orang awam hanya akrab dengan satu cabang matematika elementer yang disebut aritmetika atau ilmu hitung yang secara informal dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang berbagai bilangan yang bisa langsung diperoleh dari bilangan-bilangan bulat 0, 1, -1, 2, – 2, …, dst, melalui beberapa operasi dasar: tambah, kurang, kali dan bagi.
Matematika secara umum ditegaskan sebagai penelitian pola dari struktur, perubahan, dan ruang; tak lebih resmi, seorang mungkin mengatakan adalah penelitian bilangan dan angka. Dalam pandangan formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; pandangan lain tergambar dalam filosofi matematika.(www.wikipedia.org) Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), matematika didefinisikan sebagai ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. (Hasan Alwi, 2002:723)
Pernah dalam suatu diskusi ada pertanyaan “unik”. Apa kepanjangan dari Matematika? Dalam benak saya, masak ada kepanjangan Matematika, selama ini yang diketahui kebanyakan orang, Matematika adalah tidak lebih dari sekedar ilmu dasar sains dan teknologi yang tentunya bukan merupakan singkatan. Setelah berpikir agak lama hampir mengalami kebuntuan dalam berpikir, akhirnya narasumber menjelaskan, bahwa Matematika memiliki kepanjangan dalam 2 versi. Pertama, Matematika merupakan kepanjangan dari MAkin TEkun MAkin TIdak KAbur, dan kedua adalah MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan. Dua kepanjangan tersebut tentunya sangat berlawanan.
Untuk kepanjangan pertama mungkin banyak kalangan yang mau menerima dan menyatakan setuju. Karena siapa saja yang dalam kesehariannya rajin dan tekun dalam belajar matematika baik itu mengerjakan soal-soal latihan, memahami konsep hingga aplikasinya maka dipastikan mereka akan mampu memahami materi secara tuntas. Karena hal tersebut maka semuanya akan menjadi jelas dan tidak kabur. Berbeda dengan kepanjangan versi kedua, tidak dapat dibayangkan jika kita semakin tekun dan ulet belajar matematika malah menjadi tidak karuan alias amburadul. Mungkin kondisi ini lebih cocok jika diterapkan kepada siswa yang kurang berminat dalam belajar matematika (bagi siswa yang memiliki keunggulan kecerdasan di bidang lainnya) sehingga dipaksa dengan model apapun kiranya agak sulit untuk dapat memahami materi matematika secara tuntas dan lebih baik mempelajari bidang ilmu lain yang dianggap lebih cocok untuk dirinya dan lebih mudah dalam pemahamannya.
Berpijak pada uraian tersebut, menurut Sumardyono (2004:28) secara umum definisi matematika dapat dideskripsikan sebagai berikut, di antaranya:
1.        Matematika sebagai struktur yang terorganisir. Agak berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain, matematika merupakan suatu bangunan struktur yang terorganisir. Sebagai sebuah struktur, ia terdiri atas beberapa komponen, yang meliputi aksioma/postulat, pengertian pangkal/primitif, dan dalil/teorema (termasuk di dalamnya lemma (teorema pengantar/kecil) dan corolly/sifat).
2.        Matematika sebagai alat (tool). Matematika juga sering dipandang sebagai alat dalammencari solusi pelbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.
3.        Matematika sebagai pola pikir deduktif. Matematika merupakan pengetahuan yang memiliki pola pikir deduktif, artinya suatu teori atau pernyataan dalam matematika dapat diterima kebenarannya apabila telah dibuktikan secara deduktif (umum).
4.        Matematika sebagai cara bernalar (the way of thinking). Matematika dapat pula dipandang sebagai cara bernalar, paling tidak karena beberapa hal, seperti matematika matematika memuat cara pembuktian yang sahih (valid), rumus-rumus atau aturan yang umum, atau sifat penalaran matematika yang sistematis.
5.        Matematika sebagai bahasa artifisial. Simbol merupakan ciri yang paling menonjol dalam matematika. Bahasa matematika adalah bahasa simbol yang bersifat artifisial, yang baru memiliki arti bila dikenakan pada suatu konteks.
6.        Matematika sebagai seni yang kreatif. Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan ide-ide dan pola-pola yang kreatif dan menakjubkan, maka matematika sering pula disebut sebagai seni, khususnya merupakan seni berpikir yang kreatif.
Ada yang berpendapat lain tentang matematika yakni pengetahuan mengenai kuantiti dan ruang, salah satu cabang dari sekian banyak cabang ilmu yang sistematis, teratur, dan eksak. Matematika adalah angka-angka dan perhitungan yang merupakan bagian dari hidup manusia. Matematika menolong manusia menafsirkan secara eksak berbagai ide dan kesimpulan-kesimpulan. Matematika adalah pengetahuan atau ilmu mengenai logika dan problem-problem numerik. Matematika membahas faka-fakta dan hubungan-hubungannya, serta membahas problem ruang dan waktu. Matematika adalah queen of science (ratunya ilmu). (Sutrisman dan G. Tambunan, 1987:2-4)
Berdasarkan pelbagai pendapat tentang definisi dan deskripsi matematika di atas, kiranya dapat dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita seorang Muslim – terutama bagi pihak yang masih merasa memiliki anggapan “sempit” mengenai matematika. Melihat beragamnya pendapat banyak tokoh di atas tentang matematika, benar-benar menunjukkan begitu luasnya objek kajian dalam matematika. Matematika selalu memiliki hubungan dengan disiplin ilmu yang lain untuk pengembangan keilmuan, terutama di bidang sains dan teknologi. Bagi guru, dengan memahami hakikat definisi dan deskripsi matematika –sebagaimana tersebut di atas- tentunya memiliki kontribusi yang besar untuk menyelenggarakan proses pembelajaran matematika secara lebih bermakna. Diharapkan, matematika, tidak lagi dipandang secara parsial oleh siswa, guru, masyarakat, atau pihak lain. Melainkan mereka dapat memandang matematika secara “jujur” (baca: utuh) yang pada akhirnya dapat memacu dan berpartisipasi untuk membangun peradaban dunia demi kemajuan sains dan teknologi yang dapat memberikan manfaat bagi umat manusia.
Karim, dkk (1997:83) mengatakan bahwa hanya dengan memiliki pengetahuan tentang bilangan cacah saja kita belum mampu menjawab masalah baik dalam matematika maupun masalah komputasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, himpunan bilangan cacah memiliki kekurangan. Sebagai contoh, tak ada bilangan cacah yang membuat kalimat “ 7 + y = 5 “ atau “ 8 + x = 0” menjadi pernyataan yang bernilai benar. Contoh lain, “ 4 – 9 = x “ tidak mempunyai jawaban bilangan cacah, maka para ahli menciptakan bilangan bulat. Bilngan bulat diciptakan dengan cara : tiap bilangan cacah , misalnya 4, kita ciptakan dua simbol baru + 4 dan -4. Simbol bilangan yang diawali tanda plus kecil agak ke atas mewakili bilangan positif. Biasanya tanda plus ini dihilangkan untuk menyatakan positif, sehingga + 4 juga berarti 4. Selanjutnya simbol yang diawali dengan tanda minus kecil agak ke atas mewakili bilangan negatif. Misalnya – 3 mewakili bilangan “ negatif 3 “.Untuk bilangan 0 bukan bilangan positif dan bukan negatif maka tidak perlu membubuhi tanda apapun.
Metode Pembelajaraan dengan tiga Pencitraan terdiri dan kata metode pembelajaran dan tiga pencitraan. Metode adalah kaidah-kaidah dasar dalam melakukan kegiatan. Pembelajaran adalah suatu kegiatan dalam menyampaikan bahan ajar. Citra adalah gambaran atau representasi dan obyek-obyek eksternal. Tiga Citra adalah representasi dan objek-objek eksternal yang diwujudkan ke dalam tiga bentuk (konsepsi) yaitu konsepsi sama (Auditonial atau pendengaran), absoro ( Visual atau penglihatan) dan fuada (Kinestetik atau gerakan). Tiga Konsepsi yang kemudian disebut dengan Tiga Pencitraan yang meliputi citra Auditoda, Citra Visual, dan Citra Kinestetik.
Metode Pembelajaran dengan Tiga Pencitraan adalah suatu kaidah - kaidah dasar dalam pembelajaran dengan memperhatikan : Tiga potensi kodrati siswa dan tiga konsupsi bahan ajar.

F.       Anggapan Dasar dan Hipotesis
F.1 Anggapan Dasar
Penelitian yang dilakukan penulis didasari oleh anggapan sebagai berikut:
1.        Pembelajaran bilangan bulat adalah bagian dari pembalajaran Matematika sesuai dengan kurikulum untuk SMP Kelas VII.
2.        Metode tiga pencitraan dapat diwujudkan ke dalam tiga bentuk (konsepsi) yaitu konsepsi sama (Auditonial atau pendengaran), absoro ( Visual atau penglihatan) dan fuada (Kinestetik atau gerakan). Tiga Konsepsi yang kemudian disebut dengan Tiga Pencitraan yang meliputi citra Auditoda, Citra Visual, dan Citra Kinestetik.
3.        Dengan menggunakan teknik dan bahan pembelajaran yang tepat, maka pembelajaran akan tercapai.

F.2 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Penerapan metode tiga pencitraan dalam pembelajaran bilangan bulat dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

G.  Model Penelitian
1.        Studi Pustaka. Cara pengumpulan data berupa mencari informasi atau literatur yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti.
2.        Teknik Tes. Tes diberikan dua kali, yaitu pretes dan postes.
3.        Uji coba mengajar. Uji coba mengajar ini dilakukan untuk mengetahui pembelajaran berbicara siswa.

H.  Teknik Pengolahan Data
1.        Menganalisis data hasil uji coba pembelajaran bilangan bulat siswa dengan pretes dan postes.
2.        Menguji baku, tidak baku dari homogenitas sampel.


I.         Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN 1 Tegalwaru Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Karawang. Sampel penelitian ini hanya satu, yaitu kelas VII.
J.   Sistematika laporan
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pembatasan dan Perumusan Masalah
Pembatasan Masalah
Perumusan Masalah
Definisi Operasional
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Kajian Pustaka
Anggapan Dasar dan Hipotesis
Anggapan Dasar
Hipotesis
Model Penelitian
Teknik Pengolahan Data
Populasi dan Sampel
Sistematika laporan

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,S. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Matematika. Jakarta: Bumi Aksara.
Cholik,A.M. Sugijono. 2004. Matematika Untuk SMP Kelas VII. Jakarta:
     Erlangga.
Dahar, W.R. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta:Erlangga.
Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. 2006. Program  Pendidikan
     Nasional, (http://www.depdiknas.go.id).
jamarah, B. S. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Djiwandono, S. E. 2004. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Grasindo.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasibuan, A. B. 1994. Teori pendidikan. Jakarta: P3G.
Hudojo. H. 1998.  Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.
Junaidi, S, Dkk. 2006. Matematika Untuk SMP Kelas VII.  Surabaya: Glora
     Aksara Pratama.
Mantra, Ida, Bagous.2004. Filsafat  Penelitian  dan  Metode  Penelitian  Sosial.
     Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Partowisastro, H. Hadisuparto. 1986. Kesulitan-Kesulitan  dalam  belajar.
     Bandung: Rineka Cipta.
Popham,W. J. 1992. Teknik Mengajar Secara Sistematis. Jakarta: Rineka Cipta.
Purwanto, N. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran. . Bandung: Kencana Prenada Media Group.
Sardiman.  2003. Interaksi  dan  Motivasi  Belajar  Mengajar. Jakarta: Raja
     Grafindo Persada.
Subagyo, Joko, P. 2004. Metode Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sumarna. 2005. Analisis  Reliabilitas  dan  Interpretasi  Hasil  Tes. Bandung:
     Remaja Rosda karya.
Suryosubroto, B. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka
     Cipta.
Utomo, T.Ruijhter, K. 1994. Peningkatan  dan  Pengembangan  Pendidikan.
Jakarta: Gramedia.




UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
SISWA PADA PEMBELAJARAN BILANGAN BULAT
MELALUI METODE TIGA PENCITRAAN DI SMP PGRI PANGKALAN KARAWANG TAHUN PELAJARAN 2012-2013





 
PROPOSAL

diajukan untuk memenuhi salah syarat dalam penulisan Skripsi
pada Jurusan Matematika pada STKIP Siliwangi Bandung






oleh:
IING

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
SILIWANGI BANDUNG
2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Electricity Lightning